Story: Radit dan Jani adalah pasangan muda yang nekat menikah walau mendapat tentangan dari orang tua Jani. Tanpa bekal uang dan pekerjaan tetap, kehidupan yang keras harus mereka jalani. Awalnya kita (Christy, Philysia, Aubrey, Thomas) punya hobbi yang sama, suka dengerin musik & nonton film. Berhubung kita dikasih tugas untuk buat blog
NontonRadit & Jani (2008) film online streaming subtitle Indonesia download full movie kualitas HD Bluray sub Indo gratis. Before Accessing This Website: We do not hold the rights of any videos posted here. We are using YouTube Api for the video's to be posted on this website.
Raditdan Jani (panggilan Anjani) adalah pasangan muda yang nekat menikah walau mendapat tentangan dari orang tua Jani. Tanpa bekal uang dan pekerjaan tetap, kehidupan yang keras harus mereka
NontonStreaming dan Download Film Romantis Indonesia Radit & Jani 2008 62,437 views Feb 3, 2019 439 Dislike Share Save FREE MOVIE 261 subscribers Subscribe Radit dan Jani adalah sepasang kekasih
1 Radit dan Jani (2008) Film ini mengisahkan pasangan muda bernama Radit (Vino G. Bastian) dan Jani (Fahrani). BACA JUGA: 5 Rekomendasi Film Romantis Dari Kisah Nyata, Bikin Meleleh! Keduanya memutuskan untuk menikah walau mendapat pertentangan dari orangtua Jani. Hingga akhirnya Jani pun hamil dan Radit harus bekerja menghidupi anak dan istrinya.
10 Hangout (2016) image source: movieden.net. Hangout ini adalah film pertama Raditya Dika yang mengusung genre thirller komedi. Film ini mendapat sambutan menarik khususnya para penggemar karya-karya Raditya Dika pasalnya film ini mengkombinasikan film dengan konsep thriller namun tetap berisikan cerita komedi.
Raditdan Jani (2008) Nonton Movie Streaming Download Subtitle Indonesia Sinopsis Film Indonesia Radit & Jani (2008) HDRip BluRay TMDB, IndoFilem21, IMDB, 360p, 480p, 720p, 1080p mp4 mkv Hindi English Sub Indo Watch Online Free Streaming Full HD Indonesia Movie Download via Google Drive, Openload, Uptobox, MediaFire, Torrent, Nontonbioskop21
Buatkamu yang suka nonton film Indonesia, pastinya sudah enggak asing lagi dengan sosok Vino G Bastian, 'kan? Yap, aktor kelahiran 1982 ini memang terkenal lewat perannya yang lekat dengan nuansa laki-laki "macho", terutama pada era 2000-an. Coba lihat saja sejumlah film Vino; seperti Realita, Cinta dan Rock'n Roll (2006), Radit dan Jani (2008), dan Serigala Terakhir (2009).
Raditdan Jani (2008) adalah sebuah film besutan Upi Avianto yang memperlihatkan kehidupan pasangan muda dalam lingkup yang tidak sehat. Radit adalah anak berandalan, pria ini kecanduan narkoba dan terkadang terlalu emosional. Radit dan Jani nekat kawin lari, alhasil mereka harus merasakan kehidupan yang keras karena tidak ada uang dan pekerjaan.
Kaliini Upi, yang pernah menjadi sutradara film 30 Hari Mencari Cinta (2004), Radit dan Jani (2008), Serigala Terakhir (2009), My Stupid Boss (2016), bertindak sebagai penulis cerita untuk film Pertaruhan. Nonton Film Marvel's Iron Fist (2017) S01E13 'Dragon Plays with Fire' Online Cinema Bioskop 21 layarKaca CGVBlitz, Sinopsis Film Marvel
GdptnYw. ï»żRadit dan JaniRadit dan Anjani adalah pasangan muda yang nekat menikah walau mendapat tentangan dari orang tua Jani. Tanpa bekal uang dan pekerjaan tetap, kehidupan yang keras harus mereka jalani. Mereka pun terbangunkan oleh kenyataan, bahwa hidup mereka harus lebih banyakSutradara Upi AviantoPemain Vino G. Bastian, FahraniKamu belum melakukan verifikasi akun. Silahkan periksa email Kamu dan ikuti langkah verifikasi melalui SMSVERIFIKASI SMSDengan memverifikasi email, Anda dapat melakukanUpload vidio dengan ukuran yang lebih besar
KEMARIN malam, pukul 0130 dini hari, Ainul Yakin, mahasiswa semester tiga jurusan Teknik Informatika, menawarkan kepada saya untuk menonton sebuah film. Ini ada film menarik, Kak Jas, katanya. Saya tertarik, mengingat, besoknya saya tidak ada perkuliahan. Sekali-kali bergadang tidak apa-apa, pikirku. Toh, besok tidak cekatan dia mulai meng-copy file dari laptopnya ke laptop Chalim. Sebab, laptopnya tidak bisa dibuat memutar film. Sondânya jelek, Kak Jas, katanya. Saya lihat ada beberapa film yang sudah dicopy. Film ini cocok untuk malam ini, katanya kemudian. Diputarlah film pilihannya sudah mulai. Vino G Bastian, langsung saya kenali. âFilm apa ini?â tanya saya kepadanya. Film Radit dan Jani, jawabnya. Ya, Radit & pada awal tahun 2008, dunia perfilman Indonesia dihujani dengan film-film bergenre drama romantis. Tak ketinggalan rumah produksi Investasi Film Indonesia IFI yang sebelumnya pernah membuat Cokelat Steoberi pada 2007, dan pada tahun berikutnya, tahun 2008, mereka merilis film yang diklaim sebagai âfilm hot pertama di Indonesiaâ, dengan judul, Radit & yang sedang saya tonton waktu itu adalah sebuah film yang mengaharukan. Tak seperti lazimnya sebuah film yang bergenre romanceâperjuangan cinta, cinta bertepuk sebelah tanganâfilm Radit & Jani memiliki kisah lain dari yang lain. Bisa dikatakan romantis, juga bisa dikatakan yang berkisah tentang mempertahankan rumah tangga dan juga cinta di tengah kondisi serba kekurangan dan belitan candu obat terlarang narkoba itu, telah mampu mengoyak air mata Ainulâtermasuk saya. MerekaâVino sebagai Radit dan Fahrani sebagai Anjaniâberusaha mempertahankan cinta akibat kebodohan mereka seorang model internasional yang berperan sebagai Anjani yang kemudian akrab dipanggil Jani, berperan sebagai anak yang dicap telah merusak masa depannya sendiri oleh keluarganyaâkhususnya ayahnyaâkarena nekat pergi dari rumah dan menikah dengan Radit. Padahal, Radit adalah anak band yang bahkan satu produser pun tak ada yang mau mendengar lagu ciptaannya. Keadaan itu diperparah perihal Radit juga seorang pecandu narkoba. Radit tak punya pekerjaan tetap, tanpa bekal uang, kehidupan keras harus mereka dan Jani, pasangat suami istri tergila yang pernah saya lihatâwalaupun saya tahu itu hanya film. Bagaimana tidak gila, untuk memenuhi kebutuhan hidup, mereka rela melakukan apa saja. Mencuri di supermarket, atau menyatroni rumah kosong untuk bertahan hidup. Namun, terlepas dari duka kehidupan, kekuatan cinta mereka membuat kepahitan kehidupan seperti tak tangga mereka semakin tidak karuan, manakala Jani diketahui telah mengandungâhamilâmereka pun dibangunkan oleh kenyataan, bahwa hidup, tidak bisa hanya bermodalkan cinta. Mereka sadar, hidup mereka harus berubah. Radit mencoba segera melepaskan diri dari jeratan narkoba dan juga mendapatkan pekerjaan agar dapat membahagiakan Jani dan memberi masa depan cerah kepada anaknya kelak. Di sinilah, konflik untuk mempengaruhi psikologi penonton dibangun begitu yang duduk di sebelah saya tidak sungkan-sungkan meneteska air mata, ketika melihat adegan Radit yang sebelumnya disuruh Jani untuk cepat pulang ke rumah, sebab Jani merasa kesepian. Sebelum pulang, Radit meminta sebagian gaji dari bosnya untuk membeli makanan dan juga menebus obat untuk Jani. Sialnya, Radit tidak diberikan sepeser rupiah wataknya yang pemarah, Radit menahan emosi kemudian bergegas keluar dari ruangan bosnya. Di luar, teman kerjanya mengejek, jika dia Radit mau meminum air kencing temannya, maka obat untuk Jani akan ditebus. Artinya, Radit akan mendapatkan uang dari temannya tersebut setelah dia meminum air kencing temannya. Atas dasar ingin membahagiakan Jani, apapun rela dia lakukan, termasuk, meminum air kencing berlanjut, dengan penuh keraguan dalam keyakinan, Radit meminum segelas air kencing itu seperti meminum segelas bir, sekali teguk. Radit menang, uang sudah ada di tangan. Dia pun lari ke apotek terdekat untuk menebus obat, sekaligus membeli sebungkus nasi goreng. Dalam perjalanan, sebuah drama terjadi. Beberapa orang, sedang nongkrong di pinggir jalan. Salah satu dari mereka adalah orang yang pernah dicuri handponeânya oleh Radit dan Jani di sebuah warung orang itu masih ingat jelas wajah Radit. Tanpa ampun, mereka menghajar Radit habis-habisan. Nasi goreng, obat-obatan berserakan di tanah. Terinjak-injak. Melelehlah air mata Ainul. Betapa perjuangan yang harus sia-sia. Radit pulang dengan tangan hampa dan mendapati Jani tengah tertidur gelisah di tengah kegelapan film tersebut, crime tidak lepas dari sebagian tema/konsep dalam film. Jika berasal dari 3 babak, maka crime adalah unsur penggerak plot. Crime dalam film ini sangat banyak contonya, mulai dari minum-minuman keras, narkoba, kekerasan, dan masih banyak lagi. Tentu saja faktor criminal menggerakkan bahkan membuat cerita ini berjalan layaknya sebuah kehidupan hanya crime yang menjadi penggeraknya, faktor kelas sosial juga sangat terasa. Penokohan masyarakat urban yang bermacam-macam. Namun secara garis besar, mereka berasal dari kelas menengah ke bawah. Hal ini dijelaskan ketika beberapa adegan tempat-tempat kumuh bersanding dengan gedung perkantoran, mencirmankan khas latar belakang masyarakat Radit & Jani peran gender diangkat sebagai faktor penting. Karena konsep peran gender merupakan bagian dari upaya pelepasan âstereotypingâ dan/atau âlebelingâ. Di sini, peran laki-laki dan perempuan begitu terlihat. Radit, tetap diperankan menjadi sosok lelaki yang berusaha mati-matian untuk membahagiakan Jani. Bekerja keras layaknya tipikal melihat filim ini tentu saja dengan pendekatan sosiologi. Di mana definisi dari sosiologi itu sendiri adalah pengetahuan atau ilmu tentang sifat, perilaku, dan perkembangan masyarakat; imu tentang struktur sosial, proses sosial, dan perubahannya semoga saya salah, kalau salah, silahkan dibenarkan. Sosiologi mengambil peran dalam kehidupan masyarakat yang sangat besar, sama halnya seperti film yang dapat menyampaikan atau memberikan pengetahuan baru bagi keseluruhan tulisan yang saya tulis di atas, saya menyimpulan bahwa pada dasarnya film iniâbahkan hampir semua/kebanyakan filmâtentu mengusung dasar konsep-konsep sosiologi. Dan pada film ini, konsep sosiologi yang diusung cukuplah kuat. Film ini telah membongkar sistem berpikir bagaimana layaknya kehidupan sebuah bahtera rumah yang dipilih hanya atas dasar cinta oleh dua orang anak manusia sehingga membentuk konflik-konflik dan keadaan yang begitu rumit yang tentu saja merupakan maksud dari ilmu sosiologi manusia dan perilaku bermasyarakat/berumah tangga/berkelompok itu sendiri. Seperti penjelasan konsep ilmu sosiologi di & Jani juga memberikan pesan moral dan sensai kebebasan psikologi kepada penonton hasil penelitian berdasarkan perasaan yang saya alami dan beberapa pernyataan Ainul karena terenyuh dan tersadarkan, bahwa, dalam hal berumah tangga tidak cukup hanya bermodalkan cinta. Sungguh, rasa kesepian, hampa, kesedihan, dan kebahagiaan itu berasal dari bagaimana seseorang berpikir dan bertindak. Bagaimana paradigma yang dianut oleh orang akhir film ini, Upi, sang sutradara, kembali mengoyak psikologi penonton dengan membuat skenario bahwa Jani ternyata menikah dengan orang lain. Radit, merelakan Jani jatuh di pelukan orang lain hanya karena dia merasa tidak bisa membahagiakan istri tercintanya. Lagi-lagi, Ainul merasakan dadanya sesak.T
Maka ane hadirkan kembali RADIT DAN JANI official trit buat agan2 yang punya kenangan tersendiri tentang film ini atau bagi yang belum nonton ya silahkan usaha cari dan JaniSinopsis Radit dan Jani panggilan Anjani adalah pasangan muda yang nekat menikah walau mendapat tentangan dari orang tua Jani. Tanpa bekal uang dan pekerjaan tetap, kehidupan yang keras harus mereka jalani. Apalagi ketergantungan Radit terhadap obat-obatan terlarang membuat langkah mereka semakin berat. Namun, kekuatan cinta mereka membuat semua kepahitan hidup tidak terasa. Pada suatu hari, Jani mendapati dirinya hamil. Mereka pun terbangunkan oleh kenyataan, bahwa hidup mereka harus berubah. Radit berusaha keras untuk mendapatkan penghasilan tetap dan berhenti menggunakan narkoba, agar ia bisa membahagiakan Jani dan memberi masa depan kepada anak mereka. Sutradara Upi Avianto Penulis Upi Avianto Pemeran Vino Bastian Fahrani Nungki Kusumastuti Joshua Pandelaki Hengky Solaiman Distribusi Investasi Film Indonesia IF Durasi 110 menit Negara Indonesia Penghargaan dan Nominasi Radit dan JaniMimpi Itu Tak Di Sana oleh Eric Sasono Redaktur Jakarta 06/16/2008 181656 [Cuplikan Radit dan Jani] Radit dan Jani Belakangan, agak jarang muncul film Indonesia yang memang diniatkan sebagai melodrama; film yang diniatkan sebagai tearjerker yang tak punya beban selain untuk bercerita tentang sesuatu untuk membuat para perempuan bercucuran air mata. Rasanya, sudah beberapa saat ini film genre Indonesia menyerah, kecuali horor dan teen flick. Kedatangan film genre -film yang biasanya niat utamanya adalah bercerita- patut disambut gembira. Maka, saya suka pada Radit dan Jani. Maksud saya, seharusnya saya suka. Saya ceritakan dulu kenapa; sebelum akhirnya kata seharusnyaâ itu muncul. Radit dan Jani adalah sebuah post-romance melodrama yang memang dibuat untuk menceritakan bahwa tak mudah meraih mimpi. Kedua anak yang menikah muda ini merasa punya sikap dan pendirian; mungkin ego. Apapun namanya, mereka berhak. Namun semua orang tahu bahwa hak memang perlu diperjuangkan, bahkan kadang hingga tak masuk akal. Dan apalah akal di tengah romantisme sepasang anak awal duapuluhan yang saling memanggil bodohâ satu sama lain? Maka ketika mereka menahan lapar dan main tebak-tebakan remeh sampai muncul nama Dedi Dores sebagai gitaris top, maka itulah sebuah pilihan. Juga ketika mereka memutuskan untuk tak menjual sepatu bot bermotif jaguar yang harganya mahal itu, atau kalung yang sangat bagus itu, dan tetap menahan lapar, mungkin ada sesuatu yang mereka bela di situ. Kebebasankah, atau semacam itu, yang sedang mereka bela? Bisa jadi. Namun di sinilah akhirnya seharusnyaâ itu muncul. Saya pun batal begitu saja menyukai film ini. Saya membayangkan Radit diganti namanya jadi Dedi, dan profesinya adalah seorang sarjana menganggur yang akhirnya kerja serabutan termasuk jadi badut di TMII atau Taman Impian Jaya Ancol. Saya membayangkan Jani diganti Menul, seorang perempuan yang kebetulan pintar masak dan akhirnya memutuskan membuka warung pinggir jalan dengan menjual perhiasan yang dimilikinya. Oh, maaf, tak adil saya membandingkan Radit dan Jani dengan Badut-badut Kota Ucik Supra, 1993. Namun ada alasan kecil untuk itu. Keduanya sama-sama drama urban. Tapi memang situasi sudah berubah jauh. 1993 adalah tahun ketika Jakarta ada dalam fase tak lagi dilihat sebagai dewa Janus pemakan identitas yang kejam yang membuat penduduknya jadi sengsara seperti Jakarta 1980-an. Jakarta adalah sebuah lokus tempat terjadinya negosiasi identitas itu, dan para penduduk di dalamnya sudah mampu untuk menang bahkan ketika bermain dengan aturan yang ditetapkan oleh kota itu sendiri. Coba lihat bagaimana saya membahas mengenai kota Jakarta dalam film Indonesia di tulisan saya ini. Sesudah pertengahan 2000-an, seperti tampak pada Radit dan Jani, Jakarta mengabur. Ia tak lagi dipermasalahkan. Dalam film ini, bahkan bahasa ikonik kota tak muncul dan segala sesuatu dalam film ini serba tergantikan. Rumah susun pasangan ini bisa berganti dengan rumah kontrakan atau tumpangan di 1990-an. Toko serba ada kecil semacam Indomaret bisa diganti KUD atau warung apapun. Identitas memang bukan pertanyaan sekarang ini, kalau dikaitkan dengan tempat para tokoh ini hidup. Mungkin mereka tak pernah benar-benar mengalami kotanya sebagai sebuah ruang tempat hidup sehari-hari. Bahkan sesungguhnya, pakaian anak kedua ini juga tergantikan. Inilah yang jadi catatan saya pertama. Saya merasa ada musang berbulu domba, atau melodrama berbaju punk di film ini. Kedua anak ini serasa hanya berandalan di baju karena jika baju mereka diganti, tak banyak perubahan yang terjadi pada cerita. Sama seperti aspek pembentuk plausibility seperti lokasi, pakaian mereka tergantikan dan tak muncul ungkapan yang spesifik yang bisa membuat saya peduli pada nasib mereka. Maka tagline yang tercantum di poster film, brutally romantic, jadi membuat saya berkerut kening. Apakah romantisme mereka yang brutal ataukah orang-orang brutal ini yang romantis? Tadinya saya membayangkan film semacam Jeux Dâenfants Love Me if You Dare, Yann Samuel 2003 atau Gegen Die Wand Head On, Fatih Akin, 2004 yang benar-benar mempertaruhkan plausibility karakter-karakter dalam romansa yang benar-benar edgy dan liar. Atau Bonnie and Clyde Arthur Penn, 1967 atau Natural Born Killers Oliver Stone, 1994 yang memang kisah percintaan para pemberontak. Namun Radit dan Jani hanya memamerkan paha untuk mengutil dan berkredo âsaya minta bantuan, bukan minta khotbahâ, menunjukkan perlawanan para pemberontak itu hanya di situ. Jangan-jangan kedua anak ini sebenarnya lebih banyak melawan diri mereka sendiri ketimbang lingkungan. Benarkah itu adalah pemberontakan yang dimaksud? Catatan kedua, durasi film ini terlalu panjang di bagian awal sampai tengah film. Di bagian itu, Upi dengan penuh semangat dan kecintaan menggambarkan kehidupan karakter-karakternya. Bisa jadi Upi lupa mengedit naskahnya, tapi saya sih berpendapat pilihan berpanjang-panjang ini karena Upi memang sedang merayakan rock nâ roll; sekali lagi seperti pada Realita, Cinta dan Rock nâ Roll 2003. Sayang sekali, karena ia bisa bercerita saja tanpa harus merasa membuat score lagi dengan film ini. Maka melodrama ini jadi begitu menuntut banyak; sekalipun cerita saja sebenarnya sudah cukup, asal skenario itu diedit sedikit. Lagipula sebenarnya score yang ingin dibuatnya sebenarnya sebatas permukaan saja. Sayang sekali bahwa Upi sudah membuang peluangnya untuk menang di departemen cerita. Padahal kemenangan di cerita bisa membuatnya menang dengan film ini. Karena ia punya modal baik dengan memberikan kepercayaan kepada Faharani yang bermain sebagai Jani. Faharani bukan sekadar membuat yakin akan adanya reaksi kimiawi antara Jani dengan Radit, tapi juga selalu berhasil membuat kita percaya ia sedang membela sesuatu dalam hubungan kedua orang ini. Vino G. Bastian sebagai Radit tidak beranjak jauh dari karakternya di film yang sudah-sudah, dan Upi sedang membantu membangun stereotype Vino. Entah apakah Vino menganggapnya keberuntungan atau sebaliknya, sekalipun jelas bahwa stereotype nyaris selalu membosankan. *** Radit & Jani Sutradara & Skenario Upi. Produksi IFI Investasi Film Indonesia Bintang Faharani, Vino G. Bastian. Sinematografi J. Ical T.